Pemberitahuan - Tutup penerbitan :


Kami tidak menerbitkan buku baru atau mencetak ulang buku lagi. Penerbit tutup.




Rabu, 17 Desember 2014

Album Bandoeng En Omstreken 1845 - 1910an


Album Bandoeng En Omstreken 1845 - 1910an
Sudarsono Katam
(24 x 18) cm; 252 hlm; HVS 80 gr; hardcover, 2014
ISBN: 978-602-14372-6-1
Harga: Rp 150.000

Terbitan istimewa, terbatas 1000 eks. Setiap buku bernomer seri.


Tidak bisa dipungkiri bahwa fotografi berperanan penting dalam pendokumentasian sejarah Indonesia. Sebuah foto dapat memperlihatkan suatu peristiwa, panorama, dan kondisi sosial budaya dengan akurat, sebagai bagian dari sejarah bangsa dan negara. Sebelum penemuan fotografi, dokumentasi sejarah hanya berupa transkrip tertulis dan atau gambar lukisan yang tingkat akurasinya sering kurang memadai karena terbatasnya ingatan dan kekuatan telisik mata seseorang.

Fotografi ditemukan pada tanggal 19 Agustus 1839 ketika Louis Jacquest Mande Daguerre mengumumkan hasil eksperimennya berupa cara untuk mengabadikan imaji (image) dengan bantuan lensa dan alat perekam. Perekaman imaji itu dilakukan pada lempeng tembaga dan prosesnya disebut Daguerreotype.

Pada tahun 1841, atas permintaan pemerintah Hindia Belanda, dr. Jurriaan Munnich (1817–1865) tiba di Batavia untuk melakukan pemotretan di Hindia Belanda terutama di Pulau Jawa. Jurriaan Munnich sempat membuat 64 Daguerreotype. Sayang hasil fotonya sangat mengecewakan karena tidak  mempertimbangkan aspek panas tropis dan kelembaban tinggi yang sangat mempengaruhi kualitas Daguerreotype-nya sekarang relatif tidak tersisa lagi.

Pada bulan Juni 1844 pemerintah Hindia Belanda mendatangkan seorang yang profesional di bidang Daguerreotype, yakni seorang berkebangsaan Jerman bernama Adolph Schaefer. Ia ditugaskan untuk merekam kegiatan arkeologi di Hindia Belanda terutama di Jawa Tengah. Ia juga memotret para penduduknya terutama orang-orang Belanda.

Alih-alih memenuhi tugas dari pemerintah, Adolph Schaefer lebih mementingkan bisnis pribadi dengan membuka studio foto di Batavia pada bulan Februari 1845. Perilakunya sangat mengesalkan pemerintah Hindia Belanda sehingga ia diperintahkan untuk membuat Daguerreotype pada bulan April tahun 1845. Koleksi karya Schaefer dimiliki oleh Batavian Society of Arts and Sciences di Batavia. Kemudian, ia diberangkatkan ke Jawa Tengah untuk mendokumentasikan relief pada tingkat terbawah Candi Borobudur. Hasilnya berupa 54 Daguerreotype yang terkenal hingga sekarang.

Fotografer lain yang membuka studio foto di Batavia antara lain L. Saurman (akhir Januari 1853), C. Düben (Juli 1854), dan seorang fotografer yang kurang dikenal pada bulan Desember 1854.

Antoine Françoise Lecouteux merupakan fotografer pertama di Batavia yang menawarkan foto pada kertas albumen dan kaca. Pada bulan Mei 1855–1856, Lecouteux bekerja sama dengan Isadore van Kinsbergen, seorang pelukis potret dan aktor teater kelahiran Belgia, untuk membuat foto berwarna dengan jalan mewarnai foto hasil jepretan Lecouteux. Pada bulan Juli 1857, Lecouteux melalui iklannya di harian Java Bode menyatakan diri sebagai fotografer ahli membuat foto pada kertas albumen dan kaca. Kemudian, Isadore van Kinsbergen pada tahun 1860-an–1870-an terkenal sebagai fotografer benda-benda antik budaya Jawa.

Pada tanggal 18 Mei 1857, dua orang Inggris bernama Walter Bentley Woodbury (1834–1885) dan James Page (1833–1865) tiba di Batavia dari Melbourne, Australia. Pada saat kedatangan mereka, teknik fotografi di Batavia sudah beralih dari Daguerreotype ke kertas albumen dan fungsi foto tidak lagi ditujukan untuk dokumentasi penelitian arkeologi tetapi untuk pemotretan diri.    Studio foto Woodbury & Page dibuka antara tanggal 5 Juni–15 Oktober 1857. Pada tahun 1858, kedua fotografer itu menjelajahi Pulau Jawa terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Studio foto Woodbury & Page dibuka kembali pada tanggal 8 Desember 1858–akhir Mei 1859 dengan alamat berbeda dari sebelumnya. Keduanya melakukan percobaan pencetakan foto menggunakan larutan garam kimiawi antara 2 Februari–6 Mei 1859. Hasilnya cukup baik pada beberapa jenis kertas, kebetulan karena Woodbury & Page sudah kehabisan persediaan kertas albumen.
Pada tahun 1860, Walter Bentley Woodbury dan James Page bersama Henry James Woodbury (1836–1873) kembali menjelajahi Pulau Jawa terutama Jawa Tengah. Setelah kembali pada bulan Desember 1860, terjadi perpisahan karena James Page pergi ke Inggris pada akhir tahun 1860. Pada tanggal 18 Maret 1861, Walter Bentley Woodbury membuka studio fotonya sendiri dengan nama Atelier Woodbury. Walter Bentley Woodbury pergi ke Inggris pada akhir bulan Januari 1863 dan ia meninggal di sana tanggal 5 September 1885.

Sejak 1 Januari 1863, Atelier Woodbury kembali menyandang nama Woodbury & Page  yang  dikelola  oleh James Page dan Henry James Woodbury. James Page sakit dan ia pulang ke Inggris pada tahun 1864. Ia meninggal di Inggris pada Januari 1865. Henry James Woodbury juga kembali ke Inggris pada tahun 1866 dan ia meninggal pada bulan Juli 1873.

Sebelum James Page kembali ke Inggris, Woodbury & Page dijual kepada seorang Jerman bernama Carl Kruger pada akhir Agustus 1864. Saudara ketiga Walter Bentley Woodbury, Albert Woodbury (1840–1900) membeli kembali Woodbury & Page dari Carl Kruger pada tanggal 1 Maret 1870.

Woodbury & Page dijual kembali kepada Constantine Franz Groth pada akhir tahun 1881. Albert Woodbury kembali ke Inggris dan meninggal di sana pada bulan April 1900. Sejak awal tahun 1890 popularitas studio foto Woodbury & Page mulai menurun karena banyaknya fotografer pesaing di Batavia dan perubahan pesat teknik pencetakan foto yang muncul pada tahun 1880-an pada saat itu, pencetakan foto sudah mampu dibuat singkat. Akhirnya, Woodbury & Page ditutup pada tahun 1908.

Walter Bentley Woodbury dan James Page dapat dianggap sebagai peletak tonggak pendokumentasian segala sesuatu di Hindia Belanda sehingga foto menjadi bagian dokumen kesejarahan bangsa dan negara Indonesia.

Jacobus Anthonie Messen, seorang kelahiran Utrecht Holland tanggal 6 Desember 1836 tiba di Padang pada tahun 1864. Ia mengiklankan diri sebagai fotografer di harian Sumatra Courant antara bulan Mei–Juni 1867. Antara bulan September–Desember 1867, Jacobus Anthonie Messen membuat iklan Atelier J.A. Messen di harian Java Bode Batavia. Namun, ia melelang semua hartanya dan meninggalkan Batavia pada tanggal 20 Desember 1867. Pada bulan Juni 1868–Juli 1869, Messen kembali mengiklankan diri sebagai fotografer di Sumatra Courant Padang. Ia kembali ke Belanda pada tanggal 24 Oktober 1870. Pada bulan Februari 1871, Jacobus Anthonie Messen mempersembahkan kompilasi karya fotonya selama enam tahun di Hindia Belanda kepada Raja Belanda Z.M. Willem III. Messen meninggal di negeri Belanda pada tahun 1885.

Dinas Topografi Hindia Belanda (Topgraphic Dienst) semula bernama Topographic Bureau, yang merupakan bagian dari Netherlands Indies Topographic Bureau. Dinas Topografi menjadi dinas independen di bagian umum Angkatan Perang Hindia Belanda  pada  tanggal  7 April 1874.  Pada saat itu, Dinas Topografi sudah mempunyai studio foto sendiri dan melakukan pemotretan antara tahun 1860-an–1880-an. Objek yang dipotret kebanyakan berupa bangunan, monumen, bentang alam, dan suasana jalan. Mereka tidak memotret orang. Pada tahun 1907, Dinas Topografi dimasukkan ke dalam Departemen Peperangan.

Kassian Cephas (1844–1912) adalah fotografer pribumi pertama yang membuat foto-foto 160 panel relief Karmawibhangga di tingkat pertama Candi Borobudur (1890). Karya yang menjadikan dirinya terkenal itu dibuat atas perintah Archaeologische Vereeniging (perkumpulan arkeologi swasta) yang diketuai Ir. J.W. Ijzerman, sebelum relief itu dikubur kembali hingga sekarang.

Kassian Cephas adalah putra Jawa tulen kelahiran 15 Februari 1844 dan ia diberi nama Kassian. Sejak kecil, ia telah diangkat anak oleh pasangan suami isteri Adrianus Schalk dan Eta Philipina Kreeft yang tinggal di Yogyakarta. Pada tahun 1860 Kassian menerima nama baptis Cephas. Temuan foto tertua karya Kassian Cephas adalah buatan tahun 1875. Pada saat itu, Kassian Cephas bertindak sebagai fotografer keraton dan kesultanan.

Nama Kassian Cephas semakin terkenal sejak foto-foto karyanya menjadi ilustrasi buku-buku karya dr. Isaäc Groneman (dokter yang merawat Franz Wilhelm Junghuhn dan Sinuhun Sultan Yogyakarta). Kassian Cephas meninggal di Yogyakarta pada tanggal 2 Desember 1912.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar