Pemberitahuan - Tutup penerbitan :


Kami tidak menerbitkan buku baru atau mencetak ulang buku lagi. Penerbit tutup.




Rabu, 17 Desember 2014

Terbit Versi Digital: KITAB SUCI TAURAT - Terjemahan Bahasa Indonesia


KITAB SUCI TAURAT - Terjemahan Bahasa Indonesia (digital)
Paguyuban Pelestari Terjemahan 1912
(10,5 x 15,5) cm; 872 hlm;  2014
ISBN: 978-602-14372-4-7


 Disediakan di:
  Disediakan pula edisi cetaknya, ISBN 978-602-96769-0-7
Terbitan Khusus 

Rp 45.000


 Kitab Suci Taurat ini merupakan pemutakhiran suatu terjemahan dalam bahasa Melayu bertarikh 1912. Sebagai Kitab Suci, terjemahan ini disertai pula teks aslinya yang berbahasa Ibrani.


Kebijakan Nabi Yusuf Mengatasi Krisis Pangan

13Suatu waktu, tidak ada lagi makanan di seluruh negeri itu karena begitu hebatnya bencana kelaparan yang terjadi. Tanah Mesir dan Tanah Kanaan merana karena bencana kelaparan itu. 14Yusuf mengumpulkan seluruh uang yang ada di Tanah Mesir serta Kanaan, yaitu uang yang dibayarkan orang-orang untuk membeli gandum, lalu dibawanya uang itu ke istana Firaun. 15Setelah uang di Tanah Mesir serta Tanah Kanaan habis, semua orang Mesir pun datang kepada Yusuf dan berkata, “Berilah kami makanan. Mengapa kami harus mati di hadapan Tuan? Uang kami sudah habis!” 
16Jawab Yusuf, “Jika uangmu habis, serahkanlah ternakmu, maka aku akan memberikan kepadamu makanan sebagai ganti ternakmu.” 17Lalu mereka membawa ternak mereka kepada Yusuf, dan Yusuf memberikan kepada mereka makanan sebagai ganti kuda, kambing domba, sapi, serta keledai mereka. Pada tahun itu ia menunjang makanan mereka sebagai ganti semua ternak mereka.
 
18Setelah tahun itu berakhir, mereka datang lagi kepada Yusuf pada tahun kedua dan berkata, “Tidak dapat kami sembunyikan dari Tuanku bahwa uang kami sudah habis dan bahwa hewan ternak kami sudah menjadi milik Tuanku. Tidak ada lagi yang tersisa di hadapan Tuanku selain badan kami dan tanah kami. 19Mengapa kami dan juga tanah kami harus mati di depan mata Tuan? Belilah diri kami juga tanah kami sebagai ganti makanan. Biarlah kami dan tanah kami menjadi hamba Firaun. Berikanlah benih, supaya kami hidup dan tidak mati, dan supaya tanah tidak menjadi tandus.”
 
20Maka Yusuf membeli semua tanah di Mesir bagi Firaun, sebab orang Mesir menjual ladangnya masing-masing. Hal itu mereka lakukan karena begitu beratnya bencana kelaparan itu menimpa mereka. Dengan demikian negeri itu menjadi  milik  Firaun.  21Setelah  itu Yusuf memindahkan rakyat ke kota-kota di Mesir, dari ujung yang satu sampai ke ujung yang lain. 22Akan tetapi, ia tidak membeli tanah para imam karena para imam mempunyai jatah yang tetap dari Firaun, dan mereka makan dari jatah  tetap  yang  diberikan  Firaun kepada  mereka  itu.  Itulah  sebabnya mereka tidak menjual tanah mereka. 
23Kemudian Yusuf berkata kepada rakyat, “Pada hari ini aku telah membeli dirimu dan tanahmu bagi Firaun. Inilah benih untuk kamu tabur di tanah itu. 24Nanti, pada waktu musim menuai, kamu harus menyerahkan seperlima bagian kepada Firaun, sedangkan empat bagiannya menjadi milikmu. Pakailah itu untuk benih ladangmu, untuk makanan kamu dan mereka yang ada di rumahmu, serta makanan anak-anakmu.” 
25Jawab mereka, “Tuan sudah menyelamatkan hidup kami! Asal Tuanku berkenan, kami mau menjadi hamba Firaun.”  
 
26Maka Yusuf membuat suatu ketetapan perihal tanah di Mesir yang berlaku sampai sekarang ini, yaitu bahwa seperlima bagian dari hasil tanah menjadi milik Firaun. Hanya tanah para imamlah yang tidak menjadi milik Firaun.

Kamis, 14 Agustus 2014

BUKU TERABAS: KOTA KEZALIMAN - Suatu Hari Jumat di Yerusalem



KOTA KEZALIMAN – Suatu Hari Jumat di Yerusalem
M. Kamel Hussein
(13 x 21) cm; 304 hlm;  bookpaper; 2014
ISBN: 978-602- 97616-2-7
Rp 60.000

.................................

Demikianlah suatu hari sang gadis duduk dekat jendela, mengawasi kalau-kalau sang pemuda datang. Saat itu ia masih bergumul dengan hasratnya kepada sang pemuda. Sesekali ia menang atas hasratnya, tapi di kali-kali lain hasrat itu terlalu kuat baginya. Selama sejam ia akan memanjakan kerinduannya kepada sang pemuda, lalu berjuang keras berjam-jam untuk melupakan dia. Selagi dalam keadaan pikiran seperti ini, seorang pria terkemuka di tengah masyarakat datang sambil tertawa dengan nada mengejek. Ia bertepuk tangan dan menyatakan:

“Yah! Hari ini aku melihat suatu keajaiban yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Kalau kita mujur terus seperti ini, aku hanya bisa berpikir bahwa kiamat sudah dekat. Tidakkah kamu tahu apa yang terjadi di Yerusalem hari ini? Seorang pria biasa, tanpa kuasa, kewenangan, atau pangkat, seorang pria yang tidak berminat kepada harta atau pengetahuan, masuk ke Yerusalem dengan mengendarai keledai. Keledai malang ini tertatih-tatih, sepertinya cukup untuk membuat penunggangnya terlempar dan untuk mematahkan lehernya sendiri. Pria itu memasuki kota, disertai kaum gembel Israil. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian yang masih sangat berbau amis—sebab kebanyakan mereka adalah nelayan dari Galilea. Gerombolan orang malang yang bodoh, berpikiran lemah, dan miskin papa ini sukar kamu temukan tandingannya di Yerusalem.

Dengan cara rendahan seperti itu, sang pria memasuki kota kita sambil memegang cabang pohon zaitun, yang menandakan seruan perdamaiannya. Ia juga mengkhotbahkan bahwa manusia harus saling mengasihi dan bahwa harus ada kasih pula antara Allah dan manusia. Para pengikutnya berkata bahwa ia adalah nabi yang mengadakan mukjizat dan menyembuhkan orang sakit. Bahkan ia dikatakan membangkitkan orang mati. Dan ada macam-macam takhyul lain di antara orang-orang yang percaya kepadanya. Ia menyerukan suatu akidah baru dan agama istimewa bikinannya sendiri yang menempatkan orang miskin di atas orang kaya, orang bodoh di atas orang terpelajar, dan orang lemah di atas orang kuat. 

Kukira kegilaan pesan itu, dan kapasitas lemah penyiarnya, cukup untuk membuat orang menanggapinya dengan olok-olok dan hinaan belaka. Tapi aku sungguh tercengang mendapati orang sudi menerima pesan itu dan melihat keyakinan mereka kepada pria itu sewaktu mereka mengerumuninya. Namun, aku hanya berpikir bahwa orang bisa percaya kepadanya karena mereka sudah tidak punya harapan sukses apa pun dalam hidup.”

Sang gadis dari Magdala mulai bertanya-tanya tentang penyiar ajaran baru itu, tentang jati dirinya, khotbah-khotbahnya, dan para pengikutnya. Ia mendapati bahwa orang  yang menantang  warga Yerusalem  itu mengkhotbahkan kasih antar manusia dan kasih antara Allah dan manusia. Ia memaklumkan kerendahan hati sebagai sumber segala kebajikan, jalan menuju kemakmuran, dan cara meraih kebahagiaan abadi. Sang gadis mengetahui bahwa pria itu memaafkan pelanggaran dan mengampuni dosa. Ia pun sadar bahwa keselamatannya akan datang melalui pria itu, guru itu, yang mengabaikan orang kaya dan orang terpelajar dan menyembuhkan kesombongan manusia. Wajahnya berbinar oleh pikiran dalam jiwanya itu. 

Ia berdiri di kamarnya sebagai isyarat agar semua orang lain keluar dari situ. Setelah mereka keluar, ia menyelinap secara diam-diam dari rumah itu dan melarikan diri dengan satu pikiran saja di benaknya. Ia tidak mengenakan kerudung dan hanya berbalutkan pakaian tipis saja. Ia takut kehilangan waktu dan terlambat untuk saat pembebasan. Ia cemas kalau-kalau hal yang sangat diinginkan hatinya luput darinya. Sebagai wanita, ia tidak dalam keadaan yang pantas untuk berada di jalanan, tapi ia sama sekali tak peduli akan sekitarnya. Ia tidak mau ambil pusing tentang apa yang mungkin dikatakan orang tentang dia. Ditinggalkannya segala kekayaannya; buru-buru ditujunya tempat ia dapat menemukan pria itu. Ia telah membulatkan pikiran bahwa pria itu akan menjadi juruselamatnya.

Bukan perkara sulit untuk menemukan dia sebab banyak orang berkerumun di sekitarnya. Beberapa dari mereka hanya ingin bisa berkata bahwa mereka sudah pernah melihat dia. Orang-orang yang lain mencari kesembuhan dari penyakit mereka, tapi ada juga orang-orang yang mengikuti dia karena sungguh percaya kepadanya. Sang gadis mulai menerobos di tengah-tengah orang banyak. Berdasarkan penampilan dan busananya siapa pun bisa menilai bahwa ia bukan perempuan baik-baik. Orang menghindarinya sehingga membukakan jalan baginya, semacam koridor yang dihiasi lirikan jijik dan tatapan menghina. Tanpa memperhatikan mereka, ia maju dengan mantap ke arah pria itu.Tapi ia tidak dapat melihat wajahnya karena pria itu tidak menghadap ke arahnya. 

Lalu terjadilah bahwa pria itu disentuh seorang wanita atau orang lain dan tahu bahwa itu sentuhan orang beriman. Meskipun dikerumuni semua orang, ia hanya menanggapi mereka ketika wanita beriman ini menyentuhnya. Dia saja yang bisa mengenali sentuhan seorang beriman. Saat itu juga sang guru berpaling dan bertanya siapakah yang menyentuh dia. Begitu melihat wajahnya, sang gadis yang melarikan diri terpukau oleh sosoknya. Ia tahu bahwa kali ini harapan keselamatan tidak akan mengecewakannya. Dengan satu seruan ia menyatakan imannya kepadanya, keyakinannya bahwa dalam dialah ada kebebasannya. 

Pria itu memberinya tanda untuk mengikutinya. Banyak orang marah kepadanya karena, sebagai nabi yang diharapkan manusia, ia menerima orang seperti gadis itu. Ketika pria itu tahu bahwa mereka merasa jijik, ia mengucapkan kepada mereka perkataan yang mengesankan ini: “Gembala yang bijak memperhatikan domba yang hilang di antara kawanan dombanya. Ia bersuka hati ketika domba itu kembali kepadanya dan membiarkan domba-domba yang tidak tersesat.” Tapi banyak orang menganggap pernyataan itu tidak memadai untuk membenarkan perlakuan lembut dan sambutannya terhadap sang gadis yang jelas-jelas orang berdosa.

Khalayak membubarkan diri tapi sang gadis tetap berpaut kepada pria itu, lebih dekat dari bayangannya sendiri. Ia mengikuti pria itu masuk ke sebuah rumah. Ketika pria itu duduk, sang gadis mengambil tempat di kakinya. Ia membasuh kaki pria itu dengan air matanya lalu menyekanya dengan rambutnya. Ia mencium dan membelai kedua kaki itu dengan penuh kasih. Saat itu juga ia merasa bahwa ia disembuhkan dari segala penyakitnya. Cahaya dari sang nabi baru membanjiri jiwanya dan belas kasihan Allah merangkulnya hangat. Kesombongannya dibersihkan. Sesal, duka, dan cela lenyap darinya. Ia menemukan kebahagiaan sempurna yang sebelumnya selalu dianggapnya tak mungkin. 

Kesembuhannya menerbitkan air mata bahagia di matanya. Ia tak mempedulikan apa pun lagi selain iman baru ini. Ia memasukinya dengan segala suka hati, ketulusan, dan kekuatan yang bisa dikerahkannya. Sebelum dia, tak ada jiwa pernah dibersihkan seperti jiwanya. Tak pernah pula anugerah ilahi memenuhi suatu jiwa sampai berlimpah seperti jiwa perempuan muda berdosa ini. Oleh anugerah Allah ia menjadi orang suci; kesuciannya kelak menjadi terkenal.

...........................................


=========================================================================
Ini adalah cerita tentang Jumat Agung dan penyaliban Isa orang Nazaret. Cerita ini sudah sering dituturkan, dan zaman yang menjadikan peristiwa itu penting sudah didiskusikan lagi dan lagi di dunia kekristenan lewat tak terhitung ceramah dan tulisan. Dari sudut pandang itu, buku ini tidak menyumbangkan sesuatu yang luar biasa.
Namun, Dr. M. Kamel Hussein, pengarangnya, adalah seorang Muslim yang taat dan buku ini adalah buku pertama di dunia Islam yang membuat studi saksama tentang pokok iman Kristen. Kamel Hussein bukan saja seniman besar, tapi juga seorang berwawasan mendalam tentang tabiat manusia serta kekuatan-kekuatan yang berkuasa atas keberadaan kita secara individu dan dunia secara umum. Segala bahaya dan dosa dalam hidup dan zaman kita diungkapkan lewat pencerminan dalam tindakan para rasul, orang Yahudi, dan orang Rum. Buku ini merupakan seruan yang bersemangat dan peka agar manusia mendengar dan mematuhi suara hati nuraninya.
Pertemuan antara pemikiran Islam dan Kristen mungkin tampak mengherankan. Namun, di samping segala perbedaannya, ada kemiripan mendasar antara keduanya—lebih dari yang dilihat mata.
Versi asli buku ini (dalam bahasa Arab) telah mendapat Anugerah Negara untuk Literatur di Mesir. 

 Tersedia pula versi digitalnya di:

THE LIGHTNING - Book Two


SEBUAH NOVEL BERBAHASA INGGRIS

The Cronicles of The Dragron Brethren:
THE LIGHTNING - Book Two
Narendra Stanislaus Martosudarmo
(13,5 x 23) cm; 232hlm;  bookpaper; 2014
ISBN: 978-602-14732-5-2
Rp 80.000,00

Terbitan Terbatas
 
The Chronicles of the Dragon Brethren is a series of novels that I am currently writing. The characters in the novels are all dragons, and I am basing nearly all of them on my friends and peers from the school that I am currently studying.  I am the main character in the story. Because every one of my peers and friends have been so helpful and friendly towards me, I want to dedicate these novels to them by naming and basing the characters after each of them, and making them all dragons in my novels. 

There are seven different species of dragons in the novels and each and every one of my friends is portrayed as a dragon that shares the same personalities and appearances as them in real life. For example, if some of my friends are social, fast, and agile, their dragon is the Skyscale, a dragon that is speedy and alert on land or in air, and can shoot streams of wind from its mouth, as well as creating large gusts of wind by flapping its wings. If some of my friends are strong, courageous, and athletic, their dragon is the Flamefang, a large dragon that is fierce in battle, able to breathe copious amount of fire, and has the nasty habit of setting itself on fire to deter its enemies. Because I have quite a different personality than my friends, my dragon is the Thundertalon, the rarest and the fastest of all the dragons that has razor-sharp wings, a deadly roar, and the capability of shooting streams of lightning from its mouth. 

Like all main protagonists in many fantasy novels, I needed to have a love interest to add some romantic moments in the story. Because I see every girl in my grade as my sisters, I needed to find somebody outside my school to be my love interest. I do have numerous friends, some who are girls and are not at my school, but there is one girl in particular who has been very kind, helpful, and understanding towards me over the past few months. She and I have many things in common and I thought she could be my best friend in the first novel of the series, and later on will become my love interest in the novels that follow as our friendship grows into something that is much more powerful.

The story of how we met happened around 3 years ago. I was joining a youth camp at a resort, in the mountains of Bogor. The weather was mildly cool and the temperature of the air was cold, but much colder in the night. I was out sitting on a bench near the swimming pool looking for ideas and inspiration to write a novel and so far, it was not much of a success. Just when I was starting to run out of ideas, a female voice greeted me from behind. I turned around and I saw her for the very first time. She was around my age, a little shorter than me, with long, gleaming black hair, dark brown eyes, and a friendly smile. We introduced ourselves and she told me that our parents and older sisters were friends, so I immediately thought the two of us could be friends too. Since then, we spent a lot of time together around the resort. One night, I told her that I was looking for inspiration to write a novel. She then said that my story should be something about forming friendships, fighting enemies, and finding love, so that hopefully the book could become a best seller one day. I said to her that I’ve got great friends at my school, and I’ve learnt to stand up against those who have bossed me around and that I was on a sole quest to find the right girl for me. She then replied that sometimes love can be found in one of our closest friends. 

Within minutes I was struck with dozens of inspirations. I decided to write a novel that would contain friendship, action, mystery, comedy, and romance. She then added that the novel could be a part of a much bigger story, and that inspired me to write a series of novels. I was also inspired at the thought of the characters being my friends as dragons because dragons have fascinated me ever since I was a small kid. Since that night, I thanked her and owed her one big time, and she said no problem. When the holidays were about to end, she and I said our farewells, and I promised that I would dedicate my novel to her. That was the origin of the creation of ‘The Chronicles of the Dragon Brethren.’
 


Tersedia pula versi digitalnya di:


Jumat, 31 Januari 2014

KAYA, BERMODALKAN RP 500 RIBU - Aksi Teruji Sukses Bereksadana Saham

KAYA, BERMODALKAN RP 500 RIBU - Aksi Teruji Sukses Bereksadana Saham
Hadi Kusyanto
(14 x 21) cm; 116 hlm;  bookpaper; 2014
ISBN: 978-602-14372-3-0
Rp 35.000

Amazing! Sebuah buku provokatif yang mendorong kita untuk menjadi investor. Andakah orangnya????? Jika ya, sebuah langkah tepat bagi Anda sebelum berinvestasi adalah memiliki dan membaca buku yang sangat inspiratif serta mencerahkan  ini.
Aris - Tax Manager, Agung Concern

Membaca buku ini memotivasi saya untuk menjadi kaya. Buku ini sangat baik bagi kawula muda agar belajar menyisihkan uang saku per hari untuk dijadikan modal investasi seperti yang dijelaskan penulis.

Marten - Karyawan Swasta

Reksadana selama ini identik dengan bisnis orang kaya, ruwet, dan sulit dimengerti. Tetapi, dengan membaca buku yang dikemas dengan bahasa sehari-hari dan cukup sederhana ini kita dapat dengan mudah mengerti bagaimana berinvestasi yang baik melalui reksadana.

Buku ini juga mengajarkan kita untuk selalu memikirkan masa depan dengan cara yang tepat, dengan hitungan yang rasional. Secara umum, buku ini memberikan pencerahan kepada kita bahwa sudah saatnya uang yang bekerja untuk kita, bukan kita yang bekerja untuk uang.

Ferrul Rochman - Pengusaha

Dengan multitalenta yang dimilikinya, penulis buku ini menyadarkan pembaca bahwa siapa pun dapat keluar dari pengalaman yang tidak enak, yaitu kemiskinan, melalui pemahaman yang benar tentang bagaimana mengelola dana pribadi bahkan dari jumlah sekecil 500 ribu rupiah. Dengan menghargai hal yang kecil, maka hal yang besar dapat diraih.

HEARTLINES OF DENPASAR - Garis-garis Jantungnya Kota Denpasar


HEARTLINES OF DENPASAR - Garis-garis Jantungnya Kota Denpasar
Erland Sibuea
(25 x 20) cm; 272 hlm;  Akasia; 2013
Pakai jaket dan kotak buku
ISBN: 978-602-14372-0-9
Rp 700.000
Terbitan Istimewa,  400 eks dengan no. seri dan tanda tangan

Potret Imajinatif,
Rekaman Realitas Erland Sibuea
Tidak banyak orang mau bersusah-susah merekam hiruk-pikuknya  situasi  perkotaan dengan coretan garis membangun nilai artistik memakan waktu berhari-hari. Karena realitas ceprat-cepret dengan kamera yang super canggih mampu memberi jawaban sebaik-baiknya terhadap realitas, bahkan bisa dimainkan dengan sesuka hati. Kreativitas imajinatif  berperan menentukan kualitas hasil jebretannya, bahkan oleh pihak-pihak tertentu sering disalah gunakan dalam bidang tertentu untuk suatu kepentingan-kepentingan tertentu. Itu artinya realitas obyektif bisa dikaburkan oleh proses kreatif yang dipandang sebagai “seni berbasis teknologi”, atau bisa dikatakan sebagai “teknologi kreatif”. Semuanya itu merupakan jawaban terhadap “manual kreatif” diawali oleh nenek moyang kita sepanjang sejarah kehidupan manusia.

 Berbeda dengan Erland yang masih terhadap manual kreatif merekam dengan goresan-goresan lincahnya (sketsa) dari obyek-obyek aneka situasi, berbagai aktivitas pertokoan, suasana pasar, suasana macetnya lalu lintas, arena parkir dan lain sebagainya yang disajikan sebagai hasil kerja kreatifnya selama empat tahun terakhir (2009 hingga kini). Sketsa-sketsa Erland mengingatkan kita seperti apa yang dilakukan orang Belanda pada jaman penjajahannya di Indonesia. Arie Smit mendapat tugas oleh pemerintahnya untuk menggambar berbagai jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia yang dalam perjalanan karirnya akhirnya tinggal di Bali menjadi pelukis terkenal. Rekaman sketsa zaman perjuangan oleh Henk Ngantung memberikan sebagian jawaban realitas yang membangkitkan semangat patriotisme. Namun jauh sebelumnya goresan-goresan Raphael, Rembrandt, Leonardo Da Vinci dan lain-lainnya, telah menunjukkan kebolehan yang luar biasa bagi perkembangan seni rupa dunia. Akibat kebolehannya itu karya-karya seniman tersebut dijadikan acuan bagi perguruan tinggi seni rupa di seluruh dunia. Berbeda dengan sketsa-sketsa Widayat yang berlanggam “dekoramagis” dan Nyoman Gunarsa bergaya ekspresionis, yang membangun ciri kepelukisan masing-masing. Akankah apa yang dilakukan Erland dapat mengikuti keteladanan tokoh-tokoh tersebut di atas, barangkali kerja keras, komitmen, dan sang waktulah yang akan menentukan. Namun patut diacungi jempol bahwa Erland telah menempatkan dirinya pada posisi kreatif sketsa-sketsanya.  Pernyataan sikap seniman besar Pablo Picasso dalam menentukan sikap kesenimanannya  “saat saya telah menemukan sesuatu untuk diekspresikan, saya melakukannya tanpa memikirkan masa lalu dan masa depan”. Itu artinya Picasso pada saat mengekspresikan sesuatu yang menjadi interpenetrasi antar subyek dengan obyek menjadi kondisi jiwa yang penuh ekstasis yaitu memurnikan dirinya dalam ekspresi, membebaskan pikiran dari keterikatan masalah-masalah eksternal materialistis. Hal ini merupakan bentuk  interpretasi penuh kedalaman jiwa lebur menjadi sesuatu yang penuh sugesti (kualitas pengalaman estetis).

Membaca Teks;
Mendulang Nilai Estetis dan Mencari Makna

Membaca teks visual karya-karya sketsa Erland yang dikerjakan selama empat  tahun dari sekitar 162 lembar sketsa dan karya-karya sebelumnya memerlukan cara pembacaan secara holistik agar menemukan nilai dan makna teks visual. Sudah barang tentu dalam pembacaan unsur-unsur subyektif pembaca besar kemungkinannya, karena memang seni memiliki “keterikatan terhadap nilai”. 

Mudji Sutrisno: “Membaca adalah tugas menafsir”, jika budaya dibaca sebagai teks, dan kita adalah para penafsirnya, maka kemanakah arah ataupun tujuan pembacaan teks itu? Jawaban Mudji Sutrisno ke arah budaya hidup bersama lebih berkeadaban. Permasalahan yang dihadapi adalah “homogenisasi budaya”dimana dalam proses globalisasi dari kapitalisme konsumtif menghasilkan hilangnya keragaman budaya. Tetapi justru dalam dunia seni lahir keberagaman karya seni,  karya-karya sketsa merupakan “bibit” entahlah akan menjadi karya-karya lukisan yang menggetarkan apresian publiknya atau sketsa saja. Ketika dia berbicara sebagai sketsa, tentu pokok soal dari realitas yang dicerap dan kemudian diekspresikan menjadi realitas yang tidak seutuhnya, menjadi realitas imajinatif, ekspresif dan spontan. Namun karakteristik dan identitas obyek  masih dapat dikenali. Hal-hal seperti itulah yang dilakukan Erland dalam upaya membuka tabir rahasia dirinya dan dorongan bakat yang menggebu, yang mampu membalikkan arah jalur hidupnya dari sarjana teknik industri menjadi “penggores” yang potensial. Berbagai motivasi dan dorongan yang diikuti melalui gerak hatinya (inner power) mampu menggerakkan jiwa dan raganya siap berhari-hari menggoreskan pena menyalurkan pengalaman estetisnya. 

Realitasnya melalui karya-karya sketsanya dia terasa semakin nyaman dan bersemangat walaupun karya-karya sketsa saat ini belum banyak dilirik orang. Tumpukan karya-karyanya membuktikan semangat dan komitmennya sekaligus menjadi realitas atau fakta sosial yang bersifat alamiah yang tidak dapat diputarbalikkan dengan alasan-alasan teoritik. Pertimbangan ekonomi bagi Erland tidak serta merta mendominasi persoalan kreatif, tetapi ada sesuatu yang meletup dari dalam, bagaikan sebuah keharusan dan wajib diekspresikan. Dorongan itu menjadikan dirinya tergerak merekam berbagai sudut kota Denpasar di Jalan Gajah Mada, Museum Bali dari berbagai sudut pandang, hiruk pikuk pasar Badung dari berbagai arah, jalan Sulawesi, Patung Catur Muka dan lain sebagainya. Lahirnya karya-karya sketsa sebagai ekpresi budaya dan sekaligus merupakan artefak budaya pada saatnya nanti, akan memberi makna tertentu generasi pengemban sejarah kehidupan manusia.
 
Oleh karena demikian keberadaannya sebagai sebuah potret imaji subyektif terhadap realitas obyek yang menjadi gaya tariknya. Di situ berlaku nilai-nilai estetis yang diberi bentuk, motif maupun aksentuasi menghasilkan nilai artistik sebuah goresan. Sajian-sajian seperti menjadi  perjuangan  Erland yang sangat intensif dalam setiap karya sketsanya. Setiap suasana direkam melalui penataan obyek, gedung, keramaian orang-orang, mobil, sepeda motor, angkutan berkuda, di satu sisi pepohonan hadir sebagai elemen hias membantu melahirkan keseimbangan komposisi, yang memberi dampak kenikmatan mata memandang. Perspektif dimanfaatkan sebagai upaya menjawab realitas obyek mendekati realitas sesungguhnya. Obyek-obyek yang mengisi seluruh bidang gambarnya ditangkap secara cepat, takut kehilangan momen yang menarik perhatian. Walaupun semuanya itu tidak bisa lepas dari unsur-unsur rekayasa pribadinya. 

Akankah para apresian memiliki pengalaman estetis yang sama, menarik perhatian atau tidak menarik sama sekali terhadap persoalan kreatif yang disajikan? Persoalan itu merupakan dinamika proses pencerapan atau apresiasi. Melalui realitas baru yang disajikan, pada umumnya memunculkan kekagetan, keraguan, kegundahan yang pada akhirnya timbul pertanyaan untuk  direnungi dan dikaji. Ketika realitas baru yang selalu menjadi dambaan publik menjadi persoalan tersendiri bagi para kreator, mulai dari proses kreatif, membangun paradigma menjawab isu, mengantarkan publik  menyadari realitas baru (fisika dan metafisika). Salah satu tugas mulai para kreator yang patut dihargai. Ketika persoalan-persoalan itu mendapat respon baik dari masyarakat apresiannya, walaupun itu bukan saat karya itu diciptakan, bahkan  puluhan tahun ketika karya itu mulai dibicarakan seperti karya pematung Cokot di Bali.  Suatu renungan buat Erland “Akankah stabilitas proses berkarya, membuka ruang apresiasi menjadi komitmen hidupnya”, seperti Cokot, Affandi, Gunarsa atau seperti seniman besar lainnya. Semua hal itu ditentukan oleh energi dan waktu dan ruang dimana dia hidup. Walaupun jalan masih panjang namun Erland telah memposisikan dirinya lewat sketsa-sketsanya membangun apresiasi, membangun rasa halus menyentuh perasaan, memasuki nilai dan makna yang disiratkan didalamnya. 

Bagi para perupa yang berkiprah pada persoalan kreatif, imajinasi, lebih sensitif dan responsif terhadap persoalan itu. Apapun wujud yang lahir dari  proses kreatif adalah sah adanya dan bernilai estetis sebagai salah satu sifat keabadian  seni. Oleh karena demikian memelihara dan menghargai setiap bentuk pertumbuhan seni adalah “sebuah amanat” bagian dari “swadarmaning hidup” artinya; bagi yang hidup wajib menghargai kehidupan, karena di dunia ini tempatnya sesuatu itu tercipta, hidup dan berkembang.   Keberadaannya  berdaya hidup ketika digelarkan, didiskusikan, melalui dimensi-dimensi waktu dan keluasan apresiasi dan tanggung jawab. Ketika itulah seni terikat nilai dan terlibat pada persoalan, sosial, ekonomi, pendidikan,  politik, agama dan lain-lainnya serta memerankan dirinya sebagai “seni merangkul makna”.

I Ketut Murdana Budayawan Bali

Kamis, 31 Oktober 2013

ZABUR, edisi ke-3



ZABUR
Paguyuban Pelestari Terjemahan 1912
(12,5 x 18) cm; 318 hlm;  bookpaper; 2013
ISBN: 978-602-14372-2-3
Rp 40.000


        Lebih dari separuh syair dalam Kitab Zabur ditulis oleh Daud.
Selain Daud, beberapa penyairnya, antara lain Musa, sang pemberi hukum;
Sulaiman; Hizkia; bani Korah dan Asaf, masing-masing menulis karena
terkait penugasan mereka sebagai pemimpin biduan.

        Kitab Zabur mengantarkan setiap pembaca masuk ke dalam alam
penyembahan Allah dengan seluruh kekayaan dan kepenuhan-Nya.
Syair-syairnya mengungkapkan seluruh kerinduan terdalam manusia akan
pribadi Allah, disertai dengan jawaban dari Sang Khalik sendiri atas
kerinduan tersebut. Pembaca dapat menemukan bahwa untuk setiap
suasana hati manusia, entah apa pun dan bagaimanapun suasananya,
tersedia syair-syair yang mampu mengekspresikan setiap suasana tersebut.

Hai jiwaku, tenanglah pada Allah saja,
       karena dari Dialah pengharapanku.

Hanya Dialah gunung batu dan keselamatanku,
       Dialah kota bentengku, aku tak akan goyah.

Keselamatanku dan kemuliaanku ada pada Allah,
      gunung batu kekuatanku dan tempat perlindunganku adalah Allah.

Hai umat, percayalah kepada-Nya setiap waktu,
      curahkanlah isi hatimu di hadirat-Nya;
      Allah adalah tempat perlindungan kita.



Tersedia pula versi digitalnya di:

Rabu, 30 Oktober 2013

SEBUAH KUMPULAN PUISI BERBAHASA INGGRIS "Open Hearts, Quiet Streams"


OPEN HEARTS, QUIET STREAMS
Heather Jephcott
(12 x 18) cm; 200 hlm;  bookpaper; 2013
ISBN: 978-602-14372-1-7
Terbitan Khusus


Heather’s poetry is divinely inspired. It penetrates the soul and uplifts the heart. It challenges, comforts, exposes and heals. It is a reflection of the poet’s own experiences, yet we can all relate to them. It stems from a deep faith in Jesus, and yet its themes are universal. The person who reads, meditates on and digests these pages will walk away refreshed, if not transformed.
Armen Grakavian
A champion of the poor, the disabled in
Sydney and other places of the world


Heather Jephcott’s poems are basically the heartfelt outpourings of a poetic soul dealing in a constant commentary on her life and the world around that often succeeds by managing to be not abrasive. Her illustrations from which some of the poems come, however, exist in a more interesting artistic world of their own, untrammelled, unnamed, untamed and left free to the reader for his or her interpretation and make such a good counterpoint to her poems.

Dr. A.V. Koshy
Poet and Professor in English Literature
Saudi Arabia


I remember the joy of reading Heather’s poetry. It penetrates my soul. She is an inspiration. I see her love shining through her words. It makes me feel so good to see that she is close to God and God’s wishes.  

Kenneth Holmes
Poet, UK


As a personal friend of Heather Jephcott I am so honoured to support her in her writing.  For me, as I have come to know Heather, this one thing is certain, “What you are about to read, what you are about to absorb into your heart, has been a labor of sincerity with an aim to please, to cause thought, and to reach out.” I love Heather, because Heather is love in the purest sense of God’s Word. Be blessed with her and His love, for in what is before you, is such love.

Jack C. Pietrzak
Pueblo, Colorado, USA


The poems of Heather Jephcott are amongst the most fascinating of contemporary poetry. Writing in a very lucid and fresh style, Heather Jephcott has achieved an artistic miracle.The most beautiful thing about these poems is the positive attitude of the poet and her choice of proper and inevitable words for expressing her unique creative experiences.

Dr. Majrooh Rashid
Poet and professor in Kasmiri Literature
India


Heather’s poems are inspired, I always feel like I am right there with her and can see her heart so clearly in her writings.

Pam Frazier
USA


T.S. Elliot once said, “Genuine poetry can communicate before it is understood.” For a while I have known, he speaks the truth. Heather’s poems bring inspiration and optimism. They are beautifully layered with simplicity, hope and love. It is as if she doesn’t try, the poems just come. They flow and adapt to their surroundings and echo the voice of her words. They have often helped me overcome my own negativity. I have always enjoyed reading her poems and my feeling is... I always will.

Kartik Thopali
A young poet from India


I enjoy reading Heather’s poems and they really soothe my weary soul.

Tamanna Zaman
Bangladesh


Normally I find reading poetry a strain and to be understood well, requires deep thought to catch my mind, heart and soul. I have found Heather’s poetry to be simple, straight down to the main theme and with waves of intense and powerful personal observation and experience full of lucid emotion which impacts simply, easily, and pleasantly. Her poetry is much to my taste and I have found her to have a very mature and original mind.

Brigadier SL Narasimhan
Retd


Heather’s penned words break through to what my heart contained in “closed vaults” that I did not know were there ... her words empower me to know me better ... and grow in the Light. God is flowing through her making huge differences ... globally. I see that book as one of the Holy Spirit’s “tools” for setting more captives free.

Lindy Coombs
USA


Tersedia pula versi digitalnya di: